MySlackerBox |
DHCP ServerUntuk mengadministrasi sebuah jaringan kecil, pemberian ip static sangat memudahkan bagi administrator jaringan. Namun jika jaringan sudah mulai luas kemungkinan untuk menggunakan ip yang sama akan lebih besar sehingga menyebabkan konflik. Dengan dasar ini maka penggunaan DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) Server sangat dianjurkan. Fungsi utama dari DHCP Server ini adalah memberikan IP kepada host atau komputer yang tersambung kepada jaringan tersebut secara otomatis. Hal ini hanya berlaku jika komputer tersebut menggunakan setting IP dengan DHCP atau di Windows mengaktifkan pilihan "Obtain IP Address Automatically". Bagaimana jika telah ada komputer yang terhubung dengan jaringan dan menggunakan IP statis? Tidak ada masalah.IP tersebut tidak akan diberikan pada komputer yang akan meminta IP pada DHCP Server.IP Komputer yang sebelumnya sama dengan IP statik akan diganti oleh DHCP server. Contoh: Jika terdapat sebuah DHCP Server dengan range IP 192.168.1.100 sampai dengan 192.168.10.200, maka setiap komputer yang terhubung pada jaringan tersebut dan mengaktifkan penggunaan DHCP, maka DHCP Server akan memberikan alamat IP pada range diatas yaitu antara 100 - 200. Biasanya DHCP Server memberikan IP pada range paling atas terlebih dahulu. Jika pada contoh kita ini baru satu yang menggunakan DHCP maka kemungkinan besar mendapat IP 192.168.1.200. Jika pada jaringan tersebut terdapat sebuah komputer dengan IP Statik dan masih dalam range dari IP DHCP Server maka DHCP Server tidak akan menggunakan IP tersebut untuk diberikan kepada pengguna DHCP yang lain. File Konfigurasi
Untungnya di Slackware kita sudah tersedia DHCP server. Kita hanya perlu mengutak - atik sebuah file yaitu : Ya, hanya itu. Tapi tidak seperti file konfigurasi biasanya, kali ini (Slackware 12) file tersebut tidak ada isinya :
tinggal copykan saja file example tersebut ke /etc/, selanjutnya kita mendapat file konfigurasi yang tinggal diedit sedikit untuk membuat sebuah DHCP Server.
Gateway & Nameserver
Dua baris pertama adalah setting gateway, baris atas adalah domain-search, sedangkan dibawahnya adalah namaservernya. Silahkan di edit sesuai dengan kebutuhan Untuk konfigurasi yang saya gunakan : Baris kedua harus diisikan dengan ip atau nameserver yang valid, atau Client DHCP kita tidak bisa mengakses public domain. Berhubung saya sudah membuat sebuah DNS Server pada ip 192.168.1.254 maka itu yang saya gunakan. Kita juga diharuskan untuk menambahkan baris berikut sesuai aturan dari Internet Systems Consortium. Kalau tidak percaya beri tanda # untuk menjadikannya komentar dan dijamin dhcp servernya tidak mau start. Lease-Time
Biarkan saja seperti itu, better keep it default. :D Masih ada beberapa opsi lagi, seperti log dan autorisasi. Namun seperti opsi diatas better keep it default. Range IP / Subnet
Pada konfigurasi subnet diatas, kita membuat DHCP Server pada network 192.168.1.0 dengan netmask 255.255.255.0 dengan range IP DHCP adalah 192.168.1.100 - sampai dengan 192.168.1.200. Pada bagian ini juga ada option routers yang berarti ip gateway dari IP DHCP. Opsi routers juga bisa ditempatkan diluar (Global) sehingga secara default akan memasukkan option routers pada subnet kecuali disebutkan secara eksplisit. Kita juga bisa memberikan ip tertentu pada suatu host tertentu misalnya : Konfigurasi Lengkap ;)
Mengaktifkan DHCP Server
Supaya aktif tiap kali boot, tinggal masukkan di rc.local.
Untuk menggunakannya, pilih Obtain IP Address Automatically di windows atau ketikkan perintah dhcpcd -d eth0 sebagai root di konsole Linux
Jika yang akan di berikan ip address adalah eth0. Jika sudah periksa dengan perintah |